Letak Geografis

PROFIL GEO-MORFOLOGIS WILAYAH KABUPATEN MAPPI

Kabupaten Mappi merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke, yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Secara geografis Kabupaten Mappi terletak pada posisi 5°10’0” Lintang Utara – 7°30’0” Lintang Selatan dan 138°30’0” Bujur Barat – 140°10’0” Bujur Timur, dengan luas wilayah sekitar 28.518,63 km² (setara dengan 2.851.632,84 hektar). Secara administratif kewilayahan, Kabupaten Mappi mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Utara     :    Distrik Atsy dan Distrik Suator Kabupaten Asmat;
  • Selatan  :    Distrik Kouh, Distrik Mandobo, dan Distrik Jair Kabupaten Boven Digoel;
  • Barat     :    Distrik Pantai Kasuari, Distrik Fayit Kabupaten Asmat dan Laut Arafura; dan
  • Timur    :    Distrik Okaba dan Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke.

 

Dalam konteks RTRWN maupun RTRW Provinsi Papua, kedudukan dan peran Kabupaten Mappi sebagai salah satu kawasan yang merupakan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Oleh karenanya cakupan pelayanan yang terselenggara di wilayah Kabupaten Mappi — relevan dengan pendekatan dan strategi pembangunan dan pengembangan kota-kota yang berbasis pembangunan kutub (polarized development), yaitu terbentuknya rantai sistem perkotaan secara berjenjang dari distrik sampai dengan kampung yang didukung prasarana wilayah —setidaknya dikembangkan untuk dapat memenuhi kriteria yang tidak terbatas pada pelayanan lintas distrik akan tetapi juga bersifat lintas wilayah.

 

Sejalan dengan konsepsi tersebut, dalam konteks wilayah juga ditetapkan kawasan yang berperan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Kepi di Distrik Obaa dan Bade di Distrik Edera. Fokus pembangunan di wilayah tersebut diarahkan pada pengembangan sektor permukiman(termasuk prasarana dan sarana perumahan dan permukiman), pertanian(termasuk perkebunan, peternakan, perikanan), kehutanan, dan perairan (rawa-rawa, sungai, dan laut), yang didukung perluasan cakupan kegiatan pada sektor industri,perdagangan, jasa dan pariwisata. Pengembangan daya dukung sistem perkotaan sedemikianberpotensi mendorong perkembangan kegiatan pembangunan sektoral di distrik lainnya sampai ke tingkat kampung. Daya dukung sektor transportasi dan telekomunikasi menjadi bagian infrastruktur wilayah yang memicu percepatan pertumbuhan di distrik lainnya. Pengembanganakses antar wilayah (distrik dan kampung) berbasis perairan dan udara menjadi tumpuan dalam menunjang proses percepatan dan pemerataan pembangunan di Kabupaten Mappi, terutama untuk menyentuh kampung / distrik yang sulit dijangkau oleh transportasi darat.

 

  1. Wilayah Kabupaten Mappi terbagi menjadi 15 (lima belas) wilayah Distrik, yang secara legal formal ditetapkan pada TA 2009 (Peraturan Daerah Kabupaten Mappi Nomor 3 Tahun 2009) dan secara fungsional
  2. dioperasionalkan bertahap mulai pada TA 2010. Pada Gambar-1 disajikan Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Mappi dirinci berdasarkan pembagian wilayah Distrik (15 Distrik).

Gambar-1

Peta Wilayah Administratif Kabupaten Mappi

Kondisi fisik geografis Kabupaten Mappi sebagian besar terdiri dari dataran rendah dan berawa — rawa-rawa

permanen yang ditutupi oleh hutan sagu dan nipah dengan tingkat

kemiringan 0% – 8,0% yang mencakup sekitar 70% luas wilayah

serta hamparan savana yang luas. Dataran tinggi berbukit dan berbatu dapat

ditemukan di arah Utara wilayah Kabupaten Mappi atau daerah pedalaman — wilayah bukit berbatu yang ditutupi hutan hujan tropis dengan tingkat kemiringan 5% – 12% yang mencakup sekitar 30% luas wilayah. Profil topografis wilayah Kabupaten Mappi hanya menunjukkan satu level ketinggian yaitu antara 0,0m – 100,0m dari permukaan laut (mdpl).

Kabupaten Mappi mempunyai 9 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdiri dari 14 Sungai, dengan Sungai Digul sebagai sungai terpanjang (sekitar 180 km) yang bermuara di Laut Arafura. Dengan demikian, Kabupaten Mappi merupakan kawasan yang didominasi oleh kawasan perairan, yang terdiri dari kawasan rawa-rawa, perairan sungai, dan laut. Dari 14 sungai yang ada, terdapat 3 sungai besar yang pertemuan arus-nya dapat menimbulkan arus besar yang dikenal oleh masyarakat sebagai kepala arus’ yang merupakan potensi untuk pengembangan pariwisata. Pada Tabel-1 disajikan data sungai-sungai yang terdapat di Kabupaten Mappi.

 

 

Tabel-1

 Nama Sungai dengan Panjang, Lebar dan Kedalaman

No.  Nama Sungai  Panjang 

(km)

Lebar 

(m)

Kedalaman 

(m)

1. Digul 180 300-900 6-28
2. Edera 170 80-120 4-15
3. Mappi 145 50-200 9-18
4. Ia 95 40-70 4-12
5. Obaa 165 25-65 7-20
6. Bapai 107 60-700 6-22
7. Weldeman 130 70-400 7-30
8. Daeram 115 40-120 4-25
9. Yuliana 145 50-300 5-22
10. Assue 160 40-200 5-20
11. Prinscap
12. Purmi
13. Surung
14. Suwa

     Sumber: Bappeda Kab Mappi, 2010

 

Kondisi iklim di seluruh wilayah Kabupaten Mappi tergolong iklim tropis, dengan perbedaan kondisi yang cukup signifikan antara musim kemarau dengan musim hujan. Musim hujan umumnya terjadi antara bulan Desember sampai dengan April, dengan curah hujan berkisar antara 1.500 mm – 2.014 mm per-bulan. Musim kemarau relatif lebih pendek dari musim hujan, dan umumnya terjadi antara bulan Mei sampai dengan November, sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi monsoon tenggara yang terbawa oleh udara kering Australia. Sebagaimana umumnya kawasan hujan tropis, pada musim kemarau rata-rata curah hujan mencapai > 60mm per-bulan. Secara umum, rata-rata curah hujan di Kabupaten Mappi mencapai sekitar 2.522 mm/tahun, dengan suhu minimum tercatat antara 24°C – 27°C dan maksimum antara 32°C – 34°C, dan tingkat kelembaban udara antara 78% – 81%.

 

Jenis struktur tanah yang mayoritas berupa jenis alluvial, hidromorf kelabu, kompleks-lithosol-renzina, padsolik, dan gambut dengan tekstur yang umumnya terdiri dari pasir (sand), debu (silt), dan tanah liat (clay).Struktur tanah sedemikian memberikan harapan untuk peningkatan pertanian dan perkebunan. Struktur tanah yang dimaksud adalah alluvial terdapat di Distrik Nambioman Bapai dan Edera, pozzolith merah kuning terdapat di Distrik Edera, Obaa dan Citak mitak, organosol terdapat di Distrik Nambioman Bapai, Obaa, Citak Mitak dan hidromorf kelabu terdapat di Distrik Nambioman Bapai, Edera dan Citak Mitak.

 

Dengan  ditunjang oleh kondisi iklim yang bersifat tropis, maka pemanfaatan tanah lebih banyak digunakan untuk kepentingan pertanian, antara lain untuk tanaman pangan terutama untuk sawah seluas 7.567 ha, untuk ladang seluas 515.242 ha dan untuk lahan perkebunan 10.860 ha.